Serba Serbi dan Gaji Dokter di Indonesia

Dokter merupakan salah satu pekerjaan yang banyak diidam-idamkan orang, di Indonesia maupun di berbagai negara di dunia ini. Karena memang selain identik dengan pekerjaan mulia, dokter dimanapun selalu dicitrakan sebagai pekerjaan dengan gaji tertinggi di Indonesia.

Image dokter yang tampak mapan dan cenderung tajir inilah yang seringkali membuat orang-orang mengimpikan pekerjaan ini. Banyak pula orang tua yang menginginkan anak-anak mereka untuk menjadi seorang dokter, menaikkan nilai tambah katanya.

Padahal untuk mencapai image dokter yang sedemikian rupa, ada banyak rintangan yang harus dilewati. Waktu yang harus dicurahkan untuk mencapai ke tahap spesialis misalnya, bukan main. Rata-rata untuk mencapai level ini seseorang harus menempuh pendidikan minimal 10 tahun!

Untuk itulah kami disini, meluruskan pandanganmu para pembaca ataupun para orang tua yang berharap anak-anaknya menjadi dokter sukses nan tajir!

Modal Untuk Menjadi Dokter Besar, Benarkah?

sekolah kedokteran

Adalah suatu anggapan yang umum bahwa uang yang harus dikeluarkan orang tua agar anak-anaknya bisa menjadi dokter adalah uang yang sangat besar. Bisa dimengerti mengingat banyaknya kampus-kampus mendirikan sekolah kedokteran bertaraf internasional.

Meski demikian perlu diperhatikan pula, dimana para orang tua tersebut kelak ingin menyekolahkan anak-anaknya untuk menjadi dokter. Karena anggapan tersebut saat ini terbantahkan dengan banyaknya sekolah negeri yang masih bertarif murah.

Di bawah ini misalnya ada beberapa biaya kuliah kedokteran di universitas negeri ternama di Indonesia tahun 2019 2020 ini:

  1. Berikut ini adalah biaya kuliah kedokteran Universitas Indonesia
    1. Biaya Masuk Rp 0,-
    2. Biaya per semester
      • Kelas 1 Rp 0,- hingga Rp 500.000,-
      • Kelas 2 Rp 500.000,- hingga Rp 1.000.000,-
      • Kelas 3 Rp 1.000.000,- hingga Rp 2.000.000,-
      • Kelas 4 Rp 2.000.000,- hingga Rp 4.000.000,-
      • Kelas 5 Rp 4.000.000,- hingga Rp 6.000.000,-
      • Kelas 6 Rp 6.000.000,- hingga Rp 7.500.000,-
  1. Berikut ini adalah biaya kuliah kedokteran Universitas Padjajaran
    1. Biaya Masuk Rp 0,-
    2. Uang Kuliah Tunggal per semester
      • UKT I Rp 500.000,-
      • UKT II Rp 1.000.000,-
      • UKT III Rp 5.000.000,-
      • UKT IV Rp 9.000.000,-
      • UKT V Rp 13.000.000,-
  1. Berikut ini adalah biaya kuliah kedokteran Universitas Diponegoro
    1. Biaya Masuk Rp 0,-
    2. Uang Kuliah Tunggal per semester
      • UKT I Rp 500.000,-
      • UKT II Rp 1.000.000,-
      • UKT III Rp 5.000.000,-
      • UKT IV Rp 10.000.000,-
      • UKT V Rp 12.500.000,-
      • UKT VI Rp 15.000.000,-
      • UKT VII Rp 19.000.000,-
  1. Berikut ini adalah biaya kuliah kedokteran Universitas Airlangga
    1. Biaya Masuk Rp 0,-
    2. Uang Kuliah Tunggal per semester
      • UKT I Rp 0,- hingga Rp 500.000,-
      • UKT II Rp 750.000,- hingga Rp 1.000.000,-
      • UKT III Rp 5.000.000,- hingga Rp 6.000.000,-
      • UKT IV Rp 7.000.000,- hingga Rp 9.500.000,-
      • UKT V Rp 12.500.000,- hingga Rp 13.500.000,-
      • UKT Bidikmisi Rp 2.400.000,-
  1. Berikut ini adalah biaya kuliah kedokteran Universitas Hasanuddin
    1. Biaya Masuk Rp 0,-
    2. Uang Kuliah Tunggal per semester
      • KLP I Rp 500.000,-
      • KLP II Rp 750.000,-
      • KLP III Rp 2.000.000,-
      • KLP IV Rp 2.400.000,-
      • KLP V Rp 20.000.000,-
  1. Berikut ini adalah biaya kuliah kedokteran Universitas Gadjah Mada
    1. Biaya Masuk Rp 0,-
    2. Uang Kuliah Tunggal per semester
      • UKT I Rp 500.000,-
      • UKT II Rp 1.000.000,-
      • UKT III Rp 7.250.000,-
      • UKT IV Rp 10.875.000,-
      • UKT V Rp 14.500.000,-
      • UKT VI Rp 22.500.000,-
  1. Berikut ini adalah biaya kuliah kedokteran Universitas Brawijaya
    1. Biaya Masuk Rp 0,-
    2. Uang Kuliah Tunggal per semester
      • UKT I Rp 500.000,-
      • UKT II Rp 1.000.000,-
      • UKT III Rp 8.870.000,-
      • UKT IV Rp 19.160.000,-
      • UKT V Rp 20.305.000,-
      • UKT VI Rp 23.450.000,-
  1. Berikut ini adalah biaya kuliah kedokteran Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS)
    1. Biaya Masuk Rp 0,-
    2. Uang Kuliah Tunggal per semester
      • UKT I Rp 500.000,-
      • UKT II Rp 1.000.000,-
      • UKT III Rp 6.750.000,-
      • UKT IV Rp 10.250.000,-
      • UKT V Rp 13.750.000,-
      • UKT VI Rp 17.500.000,-
      • UKT VII Rp 19.500.000,-
  1. Berikut ini adalah biaya kuliah kedokteran Universitas Sumatera Utara
    1. Biaya Masuk Rp 0,-
    2. Uang Kuliah Tunggal per semester
      • UKT I Rp 500.000,-
      • UKT II Rp 1.000.000,-
      • UKT III Rp 1.800.000,-
      • UKT IV Rp 2.900.000,-
      • UKT V Rp 5.100.000,-
      • UKT VI Rp 6.200.000,-
  1. Berikut ini adalah biaya kuliah kedokteran Universitas Sriwijaya
    1. Biaya Masuk Rp 0,-
    2. Uang Kuliah Tunggal per semester
      • UKT I Rp 500.000,-
      • UKT II Rp 1.000.000,-
      • UKT III Rp 4.550.000,-
      • UKT IV Rp 8.005.000,-
      • UKT V Rp 10.000.000,-
      • UKT VI Rp 11.900.000,-
      • UKT VII Rp 15.950.000,-
      • UKT VIII Rp 20.000.000,-

UKT sendiri merupakan singkatan dari Uang Kuliah Tunggal yang merupakan biaya yang harus dibayarkan mahasiswa di awal semester. Dengan sistem UKT inilah kemudian mengapa uang pangkal, uang gedung, dan tetek bengek lainnya bisa dihapuskan dari pendidikan di perguruan tinggi, termasuk sekolah dokter.

Dengan rata-rata kuliah kedokteran selama 10 semester hingga 12 semester, bergantung dari kampus masing-masing, maka kamu bisa perkirakan bukan berapa biaya yang harus kamu keluarkan nantinya.

Mungkin sebagian orang akan kaget bila melihat biaya yang harus dikeluarkan untuk sekolah kedokteran di 10 kampus top ten di Indonesia ini. Tapi inilah kenyataannya, bila kamu sukses masuk ke kampus tersebut maka kamu bisa bersekolah dokter dengan murah.

Alasan dari murahnya biaya sekolah kedokteran di kampus negeri tentu saja karena subsidi yang dikeluarkan oleh pemerintah untuk para calon dokter negeri ini sangatlah besar. Berbeda halnya dengan biaya sekolah dokter di Universitas Swasta.

Kamu yang masuk ke universitas swasta biasanya diharuskan membayar uang pangkal sejumlah Rp 100.000.000,- hingga Rp 350.000.000,- dan biaya semester yang bervariasi. Namun rata-rata mencapai angka puluhan juta rupiah!

Inilah yang kemudian membuat banyak orang beranggapan bahwa sekolah dokter mahal. Padahal jika sanggup masuk ke kampus-kampus negeri yang terkenal amat sulit, tanpa mengecilkan nilai kampus swasta, tentu kamu bisa mendapatkan rewards berupa biaya kuliah yang murah.

Apa Saja yang Harus Dilalui Seorang Dokter?

ujian osce

Setelah mengetahui berapa masing-masing biaya yang harus dikeluarkan untuk menjadi seorang dokter, kamu juga harus tau apa saja hal yang harus dilalui seorang calon dokter untuk kemudian bisa bekerja sebagai seorang dokter.

Ada beberapa tahap yang pasti dilalui oleh dokter-dokter di Indonesia. Singkatnya tahapan-tahapan tersebut kira-kira seperti ini:

  1. Ujian Masuk Sekolah Dokter; sebagaimana yang diketahui bahwa fakultas kedokteran merupakan salah satu jurusan yang cukup diminati oleh para pelajar di tingkat SMA. Saking banyaknya peminat jurusan ini, rata-rata keketatan jurusan FK Negeri di Indonesia adalah 2-4 persen saja loh! Artinya dari setiap 100 pelamar hanya 2-4 orang saja yang diterima masuk. Terbayang kan sulitnya masuk jurusan ini.
  2. Pendidikan Dokter; di Indonesia rata-rata pendidikan dokter berlangsung selama 4,5-6 tahun (tergantung kampusnya). Dari waktu itu setidaknya 2/3 dihabiskan selama masa yang disebut dengan pre-klinik dan sisanya masa klinik alias koas. Selama masa pendidikan koas inilah mental seorang calon dokter diuji. Bayangkan saja dengan beban jaga malam yang mengaruskan mereka begadang, tidak ada toleransi keesokan harinya bagi mereka untuk tetap kuliah. Meskipun di malam hari mereka bekerja karena penuh pasien, tetap saja tidak akan diberikan toleransi di keesokan harinya. Di tambah tugas-tugas yang menumpuk, rata-rata seorang mahasiswa kedokteran bisa mengerjaka 1 sampai 2 makalah singkat per minggunya loh! Selain itu para mahasiswa kedokteran ini rata-rata melakukan ujian tulis setiap 3 minggu sampai 6 minggu sekali loh selama 6 tahun, ditambah ujian pasien yang rata-rata 2-4 minggu sekali selama koas, dan presentasi kasus yang tak terhitung jumlahnya.
  3. Ujian sertifikasi; setelah kuliah selama 4,5-6 tahun mereka akhirnya sampai pada checkpoint ketiga mereka yakni ujian sertifikasi atau lazim disebut UKMPPD di sini. UKMPPD sendiri mencakup ujian tulis yang terdiri dari 200 soal cerita dan ujian simulasi kasus. Di Indonesia sendiri sekarang tingkat kelulusannya baru mencapai 73% saja dari seluruh mahasiswa yang uji sertifikasi. Mereka yang tidak lulus bisa mengambil sertifikasi ulang dengan status “retaker”. Duh duh berat ya.
  4. Setelah lulus UKMPPD mereka pun harus melakukan internship alias kerja wajib di daerah-daerah. Kalau kamu pikir gaji mereka besar, wah wah coba cek ulang deh faktanya. Para dokter internship ini sekarang digaji rata-rata Rp 3 – 4 juta rupiah tergantung dimana mereka bekerja. Mereka wajib melakukan internship selama 1 tahun agar diizinkan kemudian melakukan praktik mandiri.
  5. Setelah itu barulah seorang dokter diizinkan melakukan praktik mandiri. Sudah selesai? Belum, kamu bisa melanjutkan jenjang karirmu atau tetap menjadi dokter umum. Apabila kamu tetap menjadi dokter umum, kamu pun diwajibkan untuk mengikuti seminar kedokteran secara konstan. Setiap 5 tahun izin praktikmu akan ditinjau ulang, dan kamu harus mengumpulkan 250 “SKP” (mirip SKS) selama 5 tahun tersebut. Nah SKP ini lah yang bisa didapatkan dari seminar-seminar, satu seminar rata-rata memberikan 3-6 SKP, sementara workshop bisa memberikan 12-24 SKP. Tapi biayanya waw! Bisa menyentuh angka Rp 1 juta hingga Rp 5 juta per seminar dan workshop loh!
  6. Bagi mereka yang ingin melanjutkan jenjang karir, ada beberapa pilihan
    1. Menjadi dokter Spesialis. Untuk menjadi dokter spesialis di Indonesia, dibutuhkan waktu minimal 3,5 tahun dan maksimal 5,5 tahun tergantung dari spesialis apa yang diinginkan. Intinya sih semakin sulit dan kompleks ilmunya maka semakin lama sekolahnya. Namun tentu saja kelak pendapatannya akan semakin besar.
    2. Menjadi birokrat dengan masuk sekolah administrasi sistem kesehatan. Nah salah satu jenjang karir pilihan adalah dengan menjadi birokrat atau duduk di bangku manajemen. Lamanya sekolah yang harus ditempuh rata-rata adalah 2 tahun.
    3. Menjadi peneliti, dengan masuk sekolah S2 ilmu kesehatan masyarakat ataupun S2 biomedis dan keilmuan lainnya yang berhubungan dengan kedokteran.
    4. Menjadi dokter di bidang lain, dan memilih karir yang lain. Nah jangan kaget, banyak lulusan dokter yang akhirnya jadi pengusaha, jadi seniman, dan pekerjaan lainnya. Beberapa alasannya adalah dengan semakin sempitnya lapangan kerja untuk dokter, ditambah sulit dan mahalnya menempuh pendidikan spesialis dan S2, ataupun karena memang baru menyadari bahwa passionnya bukan di bidang klinis.
  7. Setelah melewati pendidikan dokter spesialis masih ada pendidikan dokter sub-spesialis. Misalnya dokter bedah umum bisa sekolah fellow bedah tumor dan kemudian memiliki gelar dokter bedah subspesialis bedah tumor. Nah inilah puncak karir yang bisa dicapai seorang klinisi. Asal tahu saja, sekolah fellow ini bisa memakan waktu 2-3 tahun lagi loh.

Dari sini terlihat kan, untuk sampai ke tahapan spesialis (yang katanya tajir) seorang dokter minimal membutuhkan waktu 9 tahun, dengan asumsi ia sekolah di kampus yang periodenya hanya 4,5 tahun ditambah 1 tahun internship dan 3,5 tahun sekolah spesialis.

Kombinasi yang amat jarang, karena rata-rata sekolah dokter spesialis mewajibkan pelamarnya untuk memiliki pengalaman kerja diluar internship selama 1-2 tahun. Dengan kata lain ada kemungkinan seseorang baru bisa menjadi dokter spesialis selama 6 tahun sekolah ditambah 1 tahun internship ditambah 2 tahun kerja dan 5,5 tahun sekolah spesialis, yakni 14,5 tahun.

Nah apabila seorang dokter ingin menjadi dokter subspesialis maka ia harus menambah sekolah selama 2-3 tahun. Artinya untuk mencapai puncak karir, seorang dokter bisa saja bersekolah selama 17,5 tahun!

dokter bedah

Kejutannya belum berakhir disana, karena untuk sampai ke 17,5 tahun itu kamu sama sekali tidak mendapatkan penghasilan sepeserpun kecuali selama 1 tahun internship dan 2 tahun kerja. Percaya atau tidak seorang dokter baru lulus yang minim pengalaman rata-rata memiliki pendapatan Rp 3 juta – Rp 6 juta saja per bulannya.

Bahkan di bulan Januari IDI pernah melontarkan pernyataan bahwa 83% gaji dokter umum masih di bawah standar rekomendasi mereka yakni sebesar Rp 12,5 juta per bulan. Artinya 83% bergaji di bawah itu.

Wah wah kalau gini masih mau jadi dokter? Nah tapi jangan berkecil hati dulu ya, saatnya kita membahas gaji dokter spesialis yang barangkali bisa menyalakan semangatmu kembali!

Gaji Dokter Spesialis

dokter spesialis ganteng

Setelah melihat pengorbanan seorang dokter yang luar biasa besar, baik investasi waktu tenaga dan uang, tentu kamu harusnya bisa memahami mengapa pendapatan seorang dokter spesialis juga luar biasa besar.

Kalau dibilang balas budi sih sepertinya tidak juga, karena hal yang dilakukan dokter spesialis amatlah kompleks dan amat sedikit orang yang memiliki keterampilan layaknya dokter spesialis. Jadi sah sah saja dong kalau mereka memiliki penghasilan tinggi.

Tapi memang berapa sih gaji dokter spesialis itu?

Nah memang agak sulit mendapatkan data yang akurat mengenai gaji dokter di Indonesia, yah jelas karena selain tabu pekerjaan dokter ibarat konsultan, yakni dibayar sesuai dengan beban kerjanya selama satu bulan.

Ibaratnya dokter bedah saraf yang terkenal paling mahal, kalau hanya mengerjakan 1 operasi kecil selama satu bulan tentu saja bisa kalah penghasilannya dengan dokter non bedah yang praktek setiap hari di 2-3 tempat.

Namun menurut salah seorang sumber kami secara umum memang pendapatan dokter bedah bisa dibilang lebih besar, dan bahkan jauh lebih besar dari dokter-dokter non bedah. Dokter bedah sendiri bisa diartikan sebagai dokter-dokter yang “memegang pisau bedah” dalam praktiknya.

Nah menurut penggolongan inilah kemudian mengapa dokter THT, dokter mata, hingga dokter kandungan tergolong ke dokter-dokter bedah. Eh tapi jangan salah kaprah ya, penggolongan ini semata-mata kami buat untuk bicara soal gaji dokter di Indonesia.

Masih menurut sumber yang sama, di DKI Jakarta seorang dokter spesialis (apapun) memiliki rentang gaji Rp 20 juta hingga Rp 2-3 miliar per bulannya. Tentu saja semakin ke kanan, biasanya akan condong mengarah ke dokter-dokter bedah.

Namun ia sendiri tidak mamu membukanya secara pasti berapa nilai pendapatan masing-masing dokter spesialis. Yang jelas untuk dokter non bedah, menurutnya salah satu yang berpenghasilan paling tinggi adalah dokter Jantung dengan rata-rata bisa menyentuh Rp 100-300 juta per bulannya.

Sementara menurut salah seorang sumber yang lain, seorang dokter bedah tumor misalnya bisa dibayar sekitar Rp 50 juta per operasi besar dan Rp 10-15 juta per operasi kecil. Menurutnya dengan rata-rata sehari mengerjakan 1-2 operasi besar dan 1 operasi kecil, rata-rata pendapatan seorang dokter bedah tumor adalah Rp 110-120 juta per harinya.

Meski demikian gaji besar tersebut umumnya didapatkan di rumah sakit swasta. Di beberapa RSUD, misalnya di RSUD Dayaku Raja Kaltim, seorang dokter kandungan digaji Rp 70 juta per bulan, dokter anestesi sebesar Rp 50 juta per bulan, dan dokter anak sebesar Rp 55 juta.

Soal gaji dokter ini, memang sulit mendapatkan informasinya. Informasi yang kami dapatkan pun meski dari sumber-sumber langsung, tidak pernah menemukan angka yang pasti. Meski demikian boleh lah kalau dibilang gaji dokter spesialis di Indonesia cukup besar.

Namun mengingat investasi waktu tenaga dan uang yang sangat besar untuk mencapai ke titik tersebut, tentu amat layak jika seorang dokter spesialis mendapatkan uang sebesar itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *